360°

 

Waktu masih menunjukkan pukul 03.30 pagi. Rissa masih dengan balutan mukenanya dan genggaman al—qur’an ditangannya, perlahan dibasahi oleh air mata yang tidak terasa olehnya berjatuhan saat membaca setiap ayat yang dilantunkannya.

Ruangan kamar kecil yang hangat membuat ia merasa lebih berat untuk meninggalkan itu semua. Terlebih jika mengingat bagaimana mamahnya akan hidup sendiri lagi dan sekarang harus tanpanya.

Bagi rissa ini adalah keputusan besar dalam hidupnya, sambil membereskan setiap helai baju yang dimasukkan kedalam kopernya.

“pagi.... udah siap semua nak?” sapa mamahnya, lastri sambil memegang spatula ditangannya.

Rissa tersenyum melihat mamahnya yang sudah giat pagi-pagi menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.

“udah ko mah... yuk” rissa meraih tangan mamahnya menuju ruang kesukaan mamanya yaitu dapur kecil yang sederhana namun hangat membuat rissa tidak ingin beranjak dari sini. Tapi lagi-lagi rissa hanyut dalam pikirannya sendiri sambil memandangi mamahnya yang dari tadi tengah sibuk meyiapkan sarapan.

“nasi goreng telur ceplok” kata mamah lastri memecahkan lamunan rissa.

“wahh... terima kasih banyak mah” jawab rissa dengan semangat sambil mengambil sendok di raknya.

Selesai menikmati sarapan pagi, rissa kembali ke kamar untuk merapihkan barang apa saja yang akan dibawanya.

“hati hati, barangnya udah semuakan” tanya mamah lastri kepada rissa yang dari tadi masih saja melamun.

“udah ko mah, tenang aja” jawab rissa dengan senang karena masih bisa melihat mamahnya yang selalu saja khawatir pada dirinya.

Tak lama, terdengar suara mobil travel jemputan rissa sudah tiba dihalaman rumahnya. Tiddd...tidd.... tiiddd....

“udah datang... tu. Yu kita ke depan” kata mamah lastri mengajak rissa untuk segera menyiapkan diri berangkat ke luar kota.

Ya... luar kota. Hari ini tepat 3 bulan rissa baru bisa bangkit dari rasa terpuruknya dan langsung mengambil keputusan besar untuk merantau ke luar kota menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Rissa sambil mendorong kopernya keluar, ia masih saja memperhatikan setiap sudut rumah yang sederhana dengan bunga-bunga yang selalu dijaga oleh mamahnya.

“ ica pamit ya mah... mamah jaga diri baik-baik dan selalu sehat. Ica usahakan setiap libur pasti pulang” kata rissa kepada mamahnya yang sedari tadi memang sudah memperhatikan putri kecilnya itu.

Dalam benak lastri, ternyata anaknya adalah anak yang kuat dan berani dalam mengambil keputusan sehingga lastri tidak merasa ragu atas keputusan dari anaknya itu.

“ga usah khawatir sama mamah, mamah banyak teman, tu ada si cendol. Heheee” jawab mamah lastri kepada rissa sambil menunjuk kucing kesayangan rissa.

“kamu yang harusnya jaga diri baik-baik dan jangan lupa shalat ya nenggg” tambah mamah lastri kepada rissa mengingatkan untuk selalu menjalankan kewajiban sebagai muslim.

Rissa mengangguk perlahan dan tersenyum sambil menahan air matanya supaya tidak terlihat oleh mamahnya.

Keduanya berpelukkan lama untuk bisa saling merelakan. Mamah lastri merelakan anaknya untuk bisa bangkit demi masa depan putrinya. Sedangkan rissa merelakan mamahnya walau masih penuh dengan rasa kekhawatiran bagaimana mamahnya sendiri dirumah tanpa teman.

Lambaian tangan mamahnya semakin menjauh sampai hilang dari pandangan rissa karena semakin melaju mobilnya.

Mengingat kembali bagaimana rissa bisa mengambil keputusan besar di usianya yang masih sangat belia.

*** tepat 3 bulan setelah kejadian yang sampai saat ini, tidak ingin rissa ingat kembali. Karena masih menyisakan trauma baginya.

Saat itu, kondisi rumahnya yang dulu terasa sepi karena seluruh anggota keluarga sedang menghadiri acara hajatan di salah satu warga dikampung tersebut.

Karena saat itu, rissa masih satu rumah dengan keluarga besar dari pihak bapaknya. Sehingga rissa memilih untuk diam dirumah sambil membereskan dapur bekas sarapan seluruh keluarganya. Mamahnya sudah terlebih dahulu bekerja dan hanya tersisa rissa saja sendiri dirumah gedung besar itu. Namun, tiba-tiba rissa dikejutkan oleh seorang laki-laki yang tidak lain adalah sepupunya yang sedang memandanginya dari tadi.

Rissa hanya diam dalam hati bertanya kenapa sepupunya menatapnya dengan mata yang seperti kelaparan.

Rissa mencoba menjauh dan meninggalkan ruangan dapur menuju kamarnya, namun sayangnya rissa kalah cepat dengan sepupunya itu yang lansung meraih tangan rissa dan membawa rissa ke kamar lalu mengunci pintu kamar. Rissa ketakutan dan berusaha meminta tolong tapi tidak ada satupun orang dirumah itu atau bahkan tetangganya yang bisa mendengar jeritan rissa.

Tubuhnya ditindih, rissa berusaha berontak namun sepupunya 5 tahun usianya lebih tua dari rissa, sehingga rissa tidak kuat melawan tenaga sepupunya itu terlebih sepupunya itu seperti yang kesetanan.

Menerkam tubuh rissa yang kecil, mencoba mencium leher rissa , dan rissa masih berusaha berontak dan beruntung karena punya bekal bela diri dasar disekolahnya rissa berhasil menendang area sensitif sepupunya itu, “aawwww..... cewek kurang ajar” kata sepupunya dengan kasar melihat rissa bisa lepas dari genggamannya ia semakin memerah mukanya.

Rissa berusaha membuka pintu kamar, kemudian berlari keluar rumah setelah berhasil kabur dari pemangsa yang biadab itu.

Kondisi rissa yang acak-acakan itu, disaksikan para saudara dari pihak bapaknya dengan mata yang masih heran.

Setelah waktu yang lama, rissa mencoba menjelaskan semua kepada para saudaranya

Mereka seolah tidak percaya apa yang dikatakan rissa. Yaa... karena rissa hanyalah seorang anak dari bapak yang tidak bekerja.

Bapak rissa hanya penjaga toko yang dikelola oleh sepupu risa. Selain itu, bapak rissa yang sangat menurut apa yang dikatakan keluarganya sehingga rissa hanya bisa terheran melihat bapaknya yang hanya terdiam melihat anaknya telah diperlukan demikian.

Tapi rissa tidak bisa berbuat apa-apa, toh .... orang yang harusnya membelanya justru hanya diam pasrah.

Untung saja, rissa memiliki seorang ibu. Mamah lastri yang membelanya dan pada akhirnya mamah lastri memutuskan untuk berpisah dengan bapaknya dan memutuskan hubungan dengan keluarga dari suaminya itu. Terlebih mamah lastri sudah muak dengan perlakuan keluarga suaminya yang memandang rendah dirinya dan anaknya sampai ingin melakukan perbuatan tidak senonoh tersebut.

Rissa yang semakin hari semakin menutup diri terhadap lingkungan, membuat mamah lastri mengambil keputusan untuk mencari rumah baru. Namun rissa masih saja mengurung diri dikamar mandi.

Ya... kamar mandi, karena rissa melihat dirinya sangat menjijikkan. Sehingga ia selalu saja diam dikamar mandi dengan kondisi baju yang basar. Sampai akhirnya, rissa tersadar ketika kondisi mamahnya justru ikut menjadi sakit karenanya.

Sejak itu, rissa bertekad untuk bangkit dan mulai belajar lagi untuk bisa memulai hidupnya yang baru di tempat yang baru dengan keberanian yang tersisa pada dirinya. Perlahan kondisi mamahnya pun membaik dan semangat seperti sediakala karena mamah lastri menyaksikan anaknya bisa bangkit dan semangat lagi untuk menjalani hari-harinya.

Akhirnya, pada hari ini rissa mampu berani melangkah dengan percaya diri meniti kedepan dengan seluruh keyakinan yang ada pada dirinya. Walau masih berat untuk berjarak jauh dengan satu-satunya orang yang dimilikinya. Yaitu mamah lastri.

Namun tentu ada alasan bagi rissa, kenapa mengambil luar kota selain untuk memiliki lingkungan baru sehingga berharap traumanya khususnya tentang laki-laki bisa hilang dan paling utama, bisa menggantikan peran kepala keluarga yang kini dipikul oleh mamah lastri. Rissa berharap bisa sambil mencari kerja untuk tidak membebani mamahnya. ***

 

Komentar