360°
Waktu masih menunjukkan pukul 03.30 pagi. Rissa masih dengan balutan mukenanya dan genggaman al—qur’an ditangannya, perlahan dibasahi oleh air mata yang tidak terasa olehnya berjatuhan saat membaca setiap ayat yang dilantunkannya. Ruangan kamar kecil yang hangat membuat ia merasa lebih berat untuk meninggalkan itu semua. Terlebih jika mengingat bagaimana mamahnya akan hidup sendiri lagi dan sekarang harus tanpanya. Bagi rissa ini adalah keputusan besar dalam hidupnya, sambil membereskan setiap helai baju yang dimasukkan kedalam kopernya. “pagi.... udah siap semua nak?” sapa mamahnya, lastri sambil memegang spatula ditangannya. Rissa tersenyum melihat mamahnya yang sudah giat pagi-pagi menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. “udah ko mah... yuk” rissa meraih tangan mamahnya menuju ruang kesukaan mamanya yaitu dapur kecil yang sederhana namun hangat membuat rissa tidak ingin beranjak dari sini. Tapi lagi-lagi rissa hanyut dalam pikirannya sendiri sambil memandangi mamahny...